A. Sejarah dan Perkembangan
1. Asal Mula
Keroncong dibawa ke Indonesia timur bersamaan dengan gitar, alat musik para pelaut Portugis. Pulau-pulau timur nusantara merupakan daerah perdagangan besar di Indonesia sekitar abad ke-16. Makan, lahirlah kota-kota pelabuhan pantai seperti Banjarmasin di Kalimantan, Makassar di Sulawesi, serta Ambon dan Ternate di Maluku. Perkampungan kecil Portugis mulai muncul di kota-kota perdagangan sekitar dermaga di beberapa pulau nusantara, termasuk Jawa. Salah satu perkampungan tersebut adalah Tugu, suatu desa di pantai sebelah timur laut kota Jakarta. Meskipun merupakan perkampungan Portugis, penduduk di tempat tersebut terdiri dari mesticos (umat Kristen Portugis-Indonesia), penganut baru agama kristen setempat, dan mardijikers (indo Portugis keturunan budak-budak Afrika, India, Melayu, penganut baru agam Kristen). Mereka mempertunjukkan musik keroncong di waktu malam hari secara beramai-ramai.
Karena dibawakan oleh orang-orang peranakan dan disukai oleh rakyat jelata, sejak zaman Belanda musik keroncong dianggap sebagai musik pinggiran. Tak jarang keroncong dimainkan setiap malam di pinggir jalan dan seringkali dibarengi dengan kesenangan lain, seperti minum-minuman keras dan perilaku lain yang kurang santun di mata masyarakat. Dari sini muncullah istilah "buaya keroncong" bagi orang-orang yang punya kesengan berlebihan terhadap keroncong dan kesenangan lain yang dianggap kurang santun.
Instrumen yang dipergunakan dalam musik keroncong ditekankan pada alat musik berdawai yaitu sepasang keroncong (ukelele dan cak), satu sampai tiga gitar, satu cello, dan sebuah mandolin. Lebih lanjut dipadukan kecil seperti triangle dan tamborin. Karena bunyi alat musik ukelele: crong,crong,crong, akhirnya dikenal istilah musik keroncong.
Musik keroncong berkembang di pulau Jawa pada abad ke-20 dan dalam perkembangan terpengaruh oleh musik-musik daerah (tradisional) terutama di Jakarta, Jawa Tengah, Yogyakarta, Surakarta dan Jawa Timur. Begitu populernya musik ini, sehingga dikenal luas dan sangat dihargai di seluruh pulau Jawa dan pulau-pulau lain. Ada sejumlah kelompok ansambel amatir di kota-kota kecil di Jawa. Belakangan ini, musik aliran ini berkembang menjadi bermacam-macam gaya, dari keroncong asli hingga langgam Jawa, keroncong populer, keroncong jazz, dan lain-lain.
2. Perkembangan di Luar Jakarta
Perkembangan musik keroncong di luar Jakarta seperti Ambon, Makasar, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surakarta, dan Surabaya, sangat terpengaruh oleh musik tradisional. Terutama di Jawa Tengah tempat musik keroncong terpengaruh musik pentatonis (gamelan). Timbullah istilah "langgam" yang berciri bahasa daerah serta tangga nada dan ritmenya yang diarahkan dari musik daerah. Walaupun instrumentasi tersebut dari ansambel keroncong tradisional Jakarta, tetapi terdengar seolah-olah musik gamelan yang dipindahkan ke instrumentasi Barat. Kemiripan yang jelas adalah antara: biola-rebab, flute-suling, gitar melodi-siter/celempung, ukelele-ketuk, cello-kendang, dan bass-gong.
Perkembangan keroncong di Jawa Timur ditandai adanya teater rakyat Komedi Stambul yang menggunakan lagu-lagu keroncong di panggung pertunjukan untuk selingan maupun untuk bagian-bagian dari drama tersebut. Timbullah keroncong dengan gaya baru disebut "stambul". Musik keroncong di Ambon terpengaruh oleh musik Hawaian. Dalam pratiknya mereka menambahkan alat musik gitar Hawai sebagai pembawa melodi. Sedangkan keroncong di Makasar, memaki alat-alat musik yang sama dengan di jawa tetapi dengan ditambahkan kecapi. Lagu-lagunya juga terpengaruh oleh gaya daerah tersebut.
Musik keroncong di Balikpapan terdiri dari satu atau dua biola, satu mandolin yang disebut "gambus", ukelele,banjo, serta dua buah gendang. Lagu-lagunya juga terpengaruh gaya tradisional. Di Flores, terutama di Flores Tengah, menggunakan gitar dan ukelele, sedangkan Flores Timur menggunakan satu biola, gitar, dan gendang. Mereka juga menyebutnya sebagai musik keroncong walaupun alat musiknya tidak lengkap. Lagu-lagunya pun bersifat tradisional.

0 Response to "Musik Keroncong"
Post a Comment