Perpindahan penduduk dari suatu negara ke negara lain (migrasi) sesungguhnya tidak hanya dilakukan oleh penduduk pada zaman modern sekarang ini saja, tetapi sudah dimulai sejak zaman purba. Menurut Kern, seorang ahli purbakala berkewarganegaraan Inggris dan Heine Geldern berkewarganegaraan Belanda, dari hasil penelitiannya, dijelaskan bahwa sejak zaman batu (neolithikum) hingga zaman perunggu telah terjadi migrasi berskala besar yang dilakukan oleh penduduk dari daratan Asia ke berbagai kepuluan di sebelah selatan yang disebut Austronesia (kepuluan selatan). Wilayah Austronesia sangat luas, meliputi pulau-pulau yang membentang mulai dari Madagaskar (sebelah barat) sampai ke Pulau Paskah (sebelah timur) dan dari Formosa/Taiwan (sebelah utara) sampai Selandia Baru (sebelah selatan).
Penduduk yang berasal dari daratan Asia terutama dari Yunan atau di sekitar Lembah Sungai Mekong (Cina) dan Lembah Sungai Salwen (India) inilah yang disebut sebagai asal mula nenek moyang bangsa Indonesia. Ketika meninggalkan daerah asalnya menuju Kepulauan Indonesia, nenek moyang bangsa Indonesia menggunakan alat transportasi berupa perahu bercadik. Sistem berlayarnya dilakukan secara berkelompok dan terdiri atas beberapa gelombang tanpa mengenal rasa takut hingga menmpati beberapa pulau di Nusantara. Dengan demikian, dapat diketahui bahwa nenek moyang bangsa Indonesia sejak zaman dahulu merupakan pelaut ulung dengan jiwa kelautan yang cukup tangguh.
Nenek moyang bangsa Indonesia yang sudah menetap di Nusantara disebut sebagai suku bangsa Melayu Indonesia dari rumpun bangsa Austronesia. Suku bangsa Melayu yang terdapat di Indonesia dalam proses menetapnya dapat dibedakan menjadi bangsa Melayu Tua (Proto Melayu) dan bangsa Melayu Muda (Deutro Melayu).
1. Bangsa Melayu Tua (Proto Melayu) Bangsa Melayu Tua (Proto Melayu) adalah rumpun bangsa Austronesia yang datang kali pertama di Indonesia sekitar 2000 tahun SM. Kedatangan bangsa Austronesia dari daratan Yunan menuju Indonesia menempuh dua jalur berikut.
a. Jalur utara dan timur melalui Teluk Tonkin menuju Taiwan (Formosa), Filipina, Sulawes, dan Maluku dengan membawa kebudayaan kapak lonjong.
b. Jalur barat dan selatan melalui Semenanjung Malaka, Nusa Tenggara dengan membawa kebudayaan kapak persegi. Kebudayaan bangsa Melayu Tua (Proto Melayu) termasuk kebudayaan batu muda (neolithikum) menggunakan peralatan dari batu yang sudah diasah secara halus. Suku bangsa Indonesia yang masih keturunan bangsa Melayu Tua adalah suku bangsa Batak, Toraja, dan Dayak.
2. Bangsa Melayu Muda (Deutro Melayu)
Bangsa Melayu Muda (Deutro Melayu) adalah rumpun bangsa Austronesia yang datang di Indonesia pada gelombang kedua, terjadi pada sekitar 500 tahun SM. Bangsa Melayu Muda datang ke Indonesia melalui jalur barat, yakni berangkat dari Yunan, Teluk Tonkin, Vietnam, Thailand, Semenanjung Malaka, dan kemudian menyeberangi Selat Malaka hingga sampai di Kepulauan Indonesia. Bangsa Melayu Muda (Deutro Melayu) membawa kebudayaan perunggu (Kebudayaan Dongson) dan besi serta kebudayaan batu besar. Contoh hasil budaya yang terbuat dari perunggu dan besi antara lain kapak corong, kapak sepatu, nekara, dan moko. Sedangkan, hasil karya yang terbuat dari batu besar adalah menhir, dolmen (meja batu), sarkofogus (keranda jenazah dari batu), kubur batu, dan punden berundak. Suku bangsa Indonesia yang masih keturunan dari bangsa Melayu Muda adalah suku bangsa Jawa, Bali, Madura, dan Banjar.

wah ternyata gitu persebarannya
ReplyDeleteizin copas untuk tugas sekolah yaa
ReplyDelete